Peringati Hari Santri Nasional, Pimpinan Ponpes Darussalam Banyumas Tekankan Semangat Belajar dan Keteguhan Prinsip
Dipublikasikan pada 23 October 2026
BANYUMAS, 22 Oktober 2026 — Pondok Pesantren Darussalam Banyumas menggelar upacara peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis (22/10/2026) pukul 08.00 WIB. Kegiatan yang diikuti seluruh santri putra dan putri beserta seluaruh asatidzah tersebut berlangsung khidmat. Ustaz Fathin Alfan, M.Ag., selaku pimpinan Pondok Pesantren Darussalam bertindak sebagai pembina upacara.
Dalam amanatnya, Ustaz Fathin Alfan M.Ag menyampaikan dua pesan utama kepada para santri, yaitu pentingnya belajar sepanjang hayat dan keteguhan prinsip dalam menghadapi tantangan zaman.
Belajar Sepanjang Hayat, Identitas Seorang Santri
Ustaz Fathin Alfan menegaskan bahwa belajar merupakan identitas dan ciri khas seorang santri. Semangat menuntut ilmu tidak boleh berhenti ketika seseorang meninggalkan pesantren atau menyelesaikan masa pendidikannya. Belajar harus terus dilakukan hingga akhir hayat. Karena nya santri semestinya terus memegang gelar santri sebagai identitasnya sampai kapanpun dan dimanapun.
Untuk menegaskan pesan tersebut, ia mengutip kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang dikenal memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu. Dalam kisah yang disampaikan, Imam Ahmad pernah ditanya, “Ila mata ma‘al-miḥbarah?” yang berarti, “Sampai kapan engkau akan terus bersama tinta?”
Ia menjawab, “Ma‘al-miḥbarah ila al-maqbarah,” yang berarti, “Bersama tinta hingga ke liang kubur.”
Kisah tersebut menjadi motivasi bagi para santri bahwa kewajiban belajar tidak berakhir ketika masa mondok selesai atau seseorang dinyatakan lulus dari pesantren.
“Karena identitas dan ciri khas seorang santri adalah mau belajar,”tegas Ustad Fathin Alfan M.Ag.
Beliau juga mengingatkan bahwa menjadi santri merupakan sesuatu yang patut dibanggakan. Kebanggaan tersebut bukan untuk menyombongkan diri, melainkan sebagai kesadaran atas peran besar santri dalam perjalanan bangsa. Para kiai dan santri terdahulu telah berjuang melawan penjajahan dan mempertahankan kemerdekaan. Kini, perjuangan tersebut harus dilanjutkan melalui kesungguhan dalam belajar dan mengamalkan ilmu.
Memegang Prinsip dan Melanjutkan Amanah Dakwah
Pesan kedua yang disampaikan Ustaz Fathin Alfan M.Ag adalah pentingnya memiliki prinsip yang kuat. Di tengah berbagai tantangan dan godaan zaman, santri harus mampu mempertahankan nilai-nilai yang telah ditanamkan selama berada di pesantren.
Beliau menegaskan, santri semestinya mampu membawa pengaruh baik bagi lingkungannya, bukan justru terbawa oleh arus yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.
Beliau lalu mengutip ungkapan Mohammad Natsir, “Jangan berhenti tangan mendayung, nanti arus membawa hanyut.” Ungkapan ini menjadi pengingat agar santri terus belajar dan mengembangkan potensi diri sehingga tidak mudah terbawa oleh keadaan.
Ustad Fathin Alfan M.Ag juga mengibaratkan seseorang yang hendak menyeberangi sungai berarus deras. Ia harus memiliki pijakan yang kuat, tubuh yang lentur, serta memahami cara menghadapi derasnya arus. Tanpa persiapan dan prinsip yang kokoh, seseorang akan mudah hanyut.
Prinsip tersebut, lanjutnya, harus tetap dipegang santri ketika kelak meninggalkan pesantren dan terjun ke tengah masyarakat. Sebab, salah satu tujuan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam Banyumas adalah mencetak kader dakwah yang menyeru manusia kepada agama Allah. “Wa da‘iyan ilallahi bi idznihi wa sirajan munira” yang bermakna menyeru manusia kepada Allah dengan izin-Nya dan menjadi pelita yang menerangi.
“Kalau hanya sekadar bisa cari duit, sekolah di luar lebih bagus. Tapi di sini kalian dididik untuk menjadi para dai dan memberikan pelita cahaya di tengah-tengah masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, Ustad Fathin Alfan M.Ag menekankan pentingnya kesungguhan dalam belajar dan mengikuti seluruh aktivitas pendidikan di pesantren sebagai bekal untuk menjalankan amanah dakwah.
Terkahir beliau menutup amanatnya dengan berharap agar peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum bagi seluruh santri agar semakin bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Menurutnya, perjalanan masih panjang dan perjuangan harus terus dilanjutkan. Karena itu santri harus lebih giat bekerja keras lagi demi perjuangan dan dakwah islam.